Sejarah Desa selisihan

  • Dibaca: 1163 Pengunjung

Sampai sekarang belum ada data yang kongkrit mengenai sejarah Desa Selisihan. Namun berdasarkan penjelasan/keterangan dari beberapa pemuka desa dapat disampaikan bahwa adanya rombongan Betara Dalem dari Bukit Buluh (di daerah Gunaksa) Beliau melihat adanya Beringin Kembar dihutan Ea, karena banyak pohon Ea. Beliau bermaksud untuk mencari tempat tinggal. Mulailah melakukan perabasan/penebangan hutan yang sampai kepada suatu tempat/ bukit. Karena tempatnya di ujung (nangguang) tempat tersebut tidak disetujui, sehingga ditinggal. Daerah yang ditinggal tadi disebut Manduang yaitu Desa Manduang sekarang. Beliau beserta rombongan terus menebang hutan kearah utara setelah meninggalkan daerah Manduang. Di daerah yang baru ini juga tidak disetujui (ten kekanggeang). Daerah ini sekarang sudah menjadi daerah persawahan yang dinamakan sawah tentenan.

            Penebangan dilanjutkan kearah barat (nyeluk kauh) ketemu tanah tuh garing. Daerah tersebut sekarang sudah menjadi sawah yang disebut sawah/carik celuk dan tanah keringnya disebut tegal tuhgaing. Beliau bersama rombongan/pengikutnya terus merambas hutan kerah keselatan dan membabat tempat tinggal/pelinggih (puri). Baru tinggal sekitar 1 bulan tepat pada hari Purnama di tempat tersebut keluar mata air (medal tirta). Karenanya daerah tersebut dinamai tirta bulan /yeh bulan. Selanjutnya terus mengadakan penebangan hutan (ngusehang) arah kebarat menuju bukit yang sekarang disebut tegal usam. Disana beliau nyinahang/ngaksiang beringin kembar. Dari bukit tersebut benar (jakti) kelihatan beringin kembar tersebut. Dan daerah ini disebut daerah bukit jati, maka pura/ tempat suci yang dibuat oleh masyarakat Timuhun disebut Pura Jati.

            Penebangan hutan dilanjutkan keaah selatan sampai di Paku Aji. Dari sana perjalanan dilanjutkan ke daerah yang disebut Gunung Kawi. Karena sudah malam, rombongan kembali ke Puri (ke Yeh Bulan). Kelanjutannya penebangan hutan menuju kearah barat. Tempat yang dituju letaknya agak miring kebarat (tanah nyerogsog/suuh kauh). Karenanya sekarang bernama sawah/carik serogsogan. Selanjutnya penebangan dilanjutkan kearah barat (menek kauh) dan menemukan batu datar/ lempeh kena sinar. Disana rombongan kena bencana. Banyak pengikut beliau yang meninggal. Akhirnya mohon Doa restu ( mepinunas/ Ngastawa), mohon keselamatan. Daerah ini disebut daerah petapan (sekarang dinamakan Banjar Tapan). Rombongan kembali ke Puri/ Yeh Bulan. Penebangan dilanjutkan terus menuju kearah selatan. Baru ditemukan beringin kembar yang sekarang terdapat Di Desa Aan (di Pura Puseh). Rombongan kembali lagi ke Puru/ Yeh Bulan. Baru beliau membuat tempat suci yang dinamakan Pura Dalem yang bertempat di daerah kikian (sekarang carik kikian), karena dulunya banyak hutan/alas penyalin/kikian. Rombongan selanjutnya menuju ke tempat beringin kembar.

Didalam rombongan terdiri dari Pasek Dangka dan Pasek Gaduh. Mereka disuruh memindahkan desa kea rah utara (nyisihang ke utara) sehingga sekarang dinamakan Desa Selisihan. Pura Dalem pun pindah kea rah utara yaitu di tempat sekarang. Tempat tinggal puri dulu, sekarang sudah menjadi sawah/carik yang disebut ume desa. Pura Dalem letaknya jauh dari kuburan, karena pura Dalem tersebut dulu milik Betara Dalem.

Demikianlah sejarah singkat mengapa disebut desa Selisihan.

Sumber data : Prasasti yang terdapat di Pura Pasek Dangka, dalam bentuk lontar dan tembaga yang ditulis.

  • Dibaca: 1163 Pengunjung